MAKASSAR — Meningkatnya resistensi Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) terhadap antibiotik klindamisin mendorong Tim Program Kreativitas Mahasiswa–Riset Eksakta (PKM-RE) Universitas Hasanuddin (Unhas) untuk menghadirkan solusi terapeutik mutakhir. Tim dari Kampus Merah ini berhasil mengembangkan formulasi inovatif Smart Bacteriophage-Liposomal terintegrasi pH-Sensitive Hydrogel guna meningkatkan efektivitas penyembuhan infeksi kulit dan jaringan lunak (Skin and Soft Tissue Infection/SSTI).
Inovasi Sistem Penghantaran Obat Cerdas (Smart Delivery System)
Infeksi MRSA pada jaringan kulit sering kali memicu inflamasi parah hingga kerusakan jaringan yang sulit disembuhkan jika bakteri telah kebal terhadap antibiotik konvensional. Melalui penelitian ini, tim menggabungkan potensi bakteriofag virus spesifik penginfeksi bakteri dengan antibiotik klindamisin.
Kedua bahan aktif tersebut diformulasikan ke dalam liposom sebagai pembawa (carrier), lalu diintegrasikan ke dalam hidrogel sensitif pH.
“Hidrogel dirancang secara cerdas agar responsif terhadap kondisi mikro lingkungan luka terinfeksi. Sistem ini memungkinkan pelepasan bahan aktif secara lebih presisi dan tepat sasaran,” terang tim peneliti.
Sinergi antara bakteriofag dan klindamisin dalam sistem penghantaran ini diharapkan mampu menembus pertahanan MRSA yang mulai resisten sekaligus mempercepat proses perbaikan jaringan.
Uji Efektivitas pada Model In Vivo dan Histopatologi
Rangkaian riset yang dilaksanakan di lingkungan Universitas Hasanuddin sepanjang PKM-RE tahun 2026 ini meliputi berbagai tahapan, mulai dari formulasi, karakterisasi sediaan, pengujian aktivitas antibakteri, hingga pengujian in vivo.
Pengujian dilakukan pada model luka kulit tikus yang diinduksi MRSA. Untuk menilai tingkat kesembuhan, tim melakukan pemeriksaan histopatologi dengan mengamati beberapa parameter utama:
- Tingkat inflamasi: Mengukur penurunan infiltrasi sel-sel peradangan.
- Kerusakan jaringan: Menilai area nekrosis dan kerusakan epidermis.
- Proses regenerasi: Mengamati pembentukan kembali lapisan kulit (re-epitelisasi), pembentukan jaringan granulasi, dan pembentukan jaringan ikat (kolagen).
Hasil evaluasi struktur jaringan ini menjadi bukti krusial untuk mengukur sejauh mana formula mampu meredakan peradangan dan merangsang pemulihan struktur kulit.
Sinergi Kolaboratif Mahasiswa dan Akademisi Unhas
Pengembangan riset multidisiplin yang memadukan teknologi farmasi, mikrobiologi, dan terapi infeksi ini digawangi oleh mahasiswa lintas disiplin Unhas:
- Buyung Rachmat Toar
- Muh. Aidil Arfianyah.Ar
- Hilannur Minal Qurani Alam
- Mustika Darwis
- Zahratul Rifana Bombing
Riset ini dilaksanakan di bawah bimbingan dan supervisi dosen pendamping Apt. Afdil Viqar Viqhi, S.Si., M.Si.
Harapan bagi Dunia Kesehatan
Tim PKM-RE Unhas berharap riset berbasis smart delivery system ini dapat menjadi pijakan baru dalam pengembangan terapi komplementer untuk mengatasi ancaman global resistensi antimikroba (AMR).
Inovasi ini diharapkan tidak hanya berhenti pada skala laboratorium, tetapi juga berpotensi dikembangkan lebih lanjut menjadi produk terapi topikal masa depan yang aman dan efektif bagi masyarakat.












