BREAKING NEWSHUKUM DAN KRIMINAL

Puluhan Motor Mogok dari Jam 6 sampai 9 Malam: Bukti Walikota Medan Tak Mengerti Masalah Warga di Jalanan

×

Puluhan Motor Mogok dari Jam 6 sampai 9 Malam: Bukti Walikota Medan Tak Mengerti Masalah Warga di Jalanan

Sebarkan artikel ini

Hujan yang turun sejak pukul 16.00 WIB kembali mengungkap kelemahan paling mendasar yang tidak pernah dituntaskan oleh Pemerintah Kota Medan: banjir di kawasan Jalan Jamin Ginting, tepat di sekitar Fly Over Jamin Ginting. Genangan yang mulai meninggi menjelang malam menyebabkan puluhan motor mogok massal sejak pukul 18.00 hingga 21.00 WIB. Bahkan angkot dan mobil pribadi ikut mati mesin dan terpaksa berhenti di tengah jalan.

 

Kondisi ini makin memperkuat penilaian warga bahwa Wali Kota Medan tidak benar-benar memahami penderitaan masyarakat yang setiap hari mengandalkan jalanan kota ini untuk bekerja dan beraktivitas.

 

✅ Hujan Mulai Pukul 16.00: Drainase Tak Mampu Menahan Air

 

Hujan sebenarnya tidak ekstrem. Namun, dalam waktu kurang dari dua jam, genangan sudah mulai naik. Warga yang melintas heran bagaimana hujan biasa bisa membuat Jamin Ginting kembali lumpuh.

 

Banyak warga menilai masalahnya sederhana:

Drainase tidak pernah berfungsi dengan benar.

Tidak ada pembenahan serius.

 

✅ Pukul 18.00 – Motor Mulai Tumbang Satu per Satu

 

Setiba pukul 18.00, kendaraan roda dua mulai kalah melawan air yang menggenangi badan jalan. Pengendara yang nekat menerobos tak sampai setengah jalan sebelum motornya mati.

 

Seorang warga menyebut,

 

“Baru hujan sebentar langsung jadi kolam. Pemerintah kota kayak tutup mata sama daerah ini.”

 

Beberapa pengendara yang terjebak terlihat mendorong motor sambil basah kuyup dan menggerutu karena terpaksa menghabiskan waktu, tenaga, dan kemungkinan biaya servis tambahan.

 

✅ Pukul 19.00–21.00: Motor, Angkot, Hingga Mobil Ikut Mogok

 

Memasuki pukul 19.00, bukan hanya motor yang tumbang. Angkot dan mobil pribadi pun ikut mati mesin, menambah kekacauan lalu lintas. Jalan yang seharusnya menjadi jalur utama justru berubah menjadi lorong raksasa tempat warga mendorong kendaraan yang menyerah terhadap air.

 

Pengendara yang bekerja di jam pulang kantor terpaksa terhenti selama berjam-jam. Para sopir angkot terlihat putus asa karena kendaraan mereka ikut mogok, padahal pendapatan sehari-hari bergantung pada angkutan itu.

 

Situasi baru mulai membaik sekitar pukul 21.00, itu pun setelah banyak kendaraan sudah ditarik atau didorong

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *