BREAKING NEWSHUKUM DAN KRIMINALNASIONAL

HANCUR LEBUR! Mahasiswa Bongkar Borok Kampus UNJA: Fasilitas Buruk, Dosen Diduga Cabuli Mahasiswi

×

HANCUR LEBUR! Mahasiswa Bongkar Borok Kampus UNJA: Fasilitas Buruk, Dosen Diduga Cabuli Mahasiswi

Sebarkan artikel ini

Jambi, 10 Desember 2025 — Satu tahun kepemimpinan Rektor Universitas Jambi (UNJA) dihantam kritik keras dari mahasiswanya sendiri. Melalui gerakan bertajuk “Mahasiswa Berbicara: Rapor Merah,” Komunitas Pikiran Universitas Jambi (KopiUnja) menyampaikan evaluasi kritis yang menyoroti berbagai persoalan serius, mulai dari standar fasilitas yang rendah, dugaan tindak kekerasan dan pelecehan seksual, hingga lemahnya sistem keamanan data akademik.

KopiUnja menilai, kondisi tata kelola dan moralitas kampus berada dalam kondisi darurat, mendesak Rektorat untuk segera mengambil langkah tegas dan transparan.

Fasilitas di Bawah Standar, Layanan Lamban

Dalam rilis resminya, Komunitas Pikiran menyoroti bahwa kondisi fasilitas kampus di sejumlah fakultas masih jauh di bawah standar kelayakan. Hal ini mencakup ruang belajar, sarana penunjang praktikum, hingga layanan administrasi yang dinilai lamban dan tidak merata.

“Kondisi fasilitas kampus tidak mendukung proses akademik yang berkualitas. Ini berdampak langsung pada kenyamanan dan mutu pembelajaran mahasiswa,” ujar perwakilan KopiUnja dalam pernyataannya.

Dugaan Kekerasan dan Pelecehan Seksual: Dua Kasus Serius

Selain persoalan infrastruktur, evaluasi ini mengungkap empat delik aduan serius yang kini tengah dikawal oleh mahasiswa sebagai bentuk perlindungan hak-hak korban, di mana dua di antaranya sangat sensitif:

Dugaan Pencabulan: Melibatkan seorang dosen di Fakultas Pertanian terhadap mahasiswi angkatan 2021–2022 berinisial WY. Kasus ini disebut telah menimbulkan trauma psikologis dan menuntut penanganan yang cepat, berpihak pada korban, dan transparan dari institusi.

Dugaan Kekerasan Fisik: Adanya aduan dugaan kekerasan yang dilakukan oleh seorang dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) terhadap mahasiswa, yang berdasarkan keterangan korban mengalami pemukulan.

“Mahasiswa bukan hanya objek kebijakan, tetapi subjek yang berhak atas rasa aman dan keadilan. Ketika aduan kekerasan tidak transparan, ini adalah tanda darurat dalam tata kelola kampus,” tegas KopiUnja.

SIAKAD Diretas, Data Mahasiswa Terancam

Isu serius lain yang menjadi sorotan adalah insiden peretasan (hacking) terhadap Sistem Informasi Akademik (SIAKAD) Universitas Jambi yang belakangan ini diketahui publik.

Peristiwa peretasan ini menimbulkan kekhawatiran besar terkait keamanan data pribadi mahasiswa dan integritas sistem akademik. Mahasiswa menilai insiden ini menunjukkan lemahnya sistem pengamanan digital kampus yang seharusnya menjadi prioritas utama.

Selain itu, KopiUnja juga mengungkap dugaan penyalahgunaan aturan akademik oleh asisten dosen Biologi di Fakultas Peternakan, berupa praktik pengkaderan di dalam ruang akademik yang memanfaatkan sistem pengesahan laporan praktikum.

Alarm Keras Bagi Pimpinan Kampus

Meskipun KopiUnja menegaskan bahwa seluruh aduan yang disampaikan masih bersifat dugaan dan harus diproses melalui mekanisme hukum yang adil, mereka menyatakan belum melihat langkah tegas dan terbuka dari pihak rektorat dalam menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut secara komprehensif.

“Gerakan ‘Rapor Merah’ ini bukan bentuk kebencian, melainkan sebagai peringatan keras sekaligus bentuk kepedulian agar Universitas Jambi kembali pada nilai-nilai dasar sebagai ruang akademik yang aman, transparan, dan bermartabat,” tutup pernyataan tersebut, yang berharap pimpinan kampus segera berbenah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *